Thursday Apr 24

Manusia dan Ilmu Pengetahuan

Oleh Dr Ahsin Sakho Muhammad

Pengasuh Pesantren Dar al-Qur’an Kebon Baru Arjawinangun Cirebon

 

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dari kamu dan orang-orang yang ber ilmu beberapa derajat. Sesungguhnya Allah terhadap apa yang kamu lakukan sangat teliti.” (QS. al-Mujadilah: 11)

 

Ayat di atas, meski secara konteks sabab an-nuzul terkait orang yang bersedia memberikan ruang kepada orang lain dalam majlis ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah, namun bagian paling penting darinya adalah bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan orang yang berilmu, pada tingkatan yang tinggi baik di dunia maupun akhirat.

Ada beberapa catatan yang patut diberikan pada ayat di atas:

Pertama, Bentuk fi’il (kata kerja) yang digunakan pada ayat diatas adalah  bentuk fi’il mudhari’ (yarfa’) yang mengandung arti keberlanjutan dari masa sekarang sam­pai masa yang akan datang. Artinya, janji Allah ini akan terus berlangsung sepanjang zaman.

Kedua, Fi`il pada ayat tersebut dinyatakan lebih dulu dari pada fa’il (pelakunya) yaitu orang yang beriman dan yang berilmu. Hal ini menunjukkan kepedulian Allah yang tinggi terhadap kedua kelompok tersebut atau seorang yang mempunyai dua keistimewaan tersebut. Dalam ilmu Balaghah (Sastera Arab), mendahulukan fi’il (musnad) dari pada musnad ilaih (fa’il) berarti musnad itulah yang menjadi pokok bahasan. Jika dikatakan Zaidun qa’imun, maka yang menjadi fokus pembicaraan adalah Zaid. Jika dikatakan Qama Zaidun, maka fokus pembicaraannya adalah berdirinya Zaid.

Ketiga, Orang yang Allah angkat derajatnya bisa jadi ada dua kelompok, yaitu: orang yang beriman dan orang yang berilmu. Tapi boleh jadi satu kelompok yang mempunyai dua sifat sekaligus, yaitu beriman dan berilmu.

Keempat, Kata Darajat pada ayat di atas menggunakan bentuk jama’ (plural) dan nakirah. Ini berarti derajat tersebut sangatlah banyak, tidak diketahui jumlahnya, meliputi derajat di dunia dan akhirat.

Pada ayat di atas ada dua faktor yang menjadikan seseorang mempunyai bobot lebih, yaitu keimanan dan ilmu pengetahuan. Keimanan  merupakan nilai spiritual yang sangat penting (esensial) pada diri manusia. Dengan keimanan, seseorang akan mengetahui aspek-aspek ke­hidupan yang benar dan baik. Karena semua yang datang dari Allah pasti baik dan benar. Tanpa keimanan, manusia tak punya arti apa-apa. Sementara keahlian seseorang karena ilmu pengetahuannya menyebabkan dia disegani dan dibutuhkan masyarakat. 

 

Keunggulan manusia

Manusia adalah makhluk istimewa yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Al-Qur’an menyebutkan beberapa keistimewaan manusia tersebut, di antaranya:

Pertama, Manusia dimuliakan oleh Allah dengan ben­tuk tubuh yang paling bagus (ahsanu taqwim) dari pada makhluk hidup lainnya (QS. at-Tin: 4). Pada kenyataannya, jika dibandingkan dengan makhluk hidup mana pun, maka bentuk tubuh manusia adalah yang paling bagus, tampak sempurna, tegap, pantas, dan berwibawa. 

Kedua, Allah telah melindungi kehormatan manusia dengan begitu kuat. Kemerdekaannya tidak boleh dirampas. Jiwa, anggota badan, harta, dan kehormatannya tidak boleh diganggu atau dirampas oleh orang lain tanpa alasan yang benar. Sisi kemanusiaan manusia harus tetap dihargai dan dihormati meski ia seorang non muslim, bahkan atheis, dan sudah meninggal sekalipun. 

Ketiga, Allah memberikan kemuliaan kepada manusia diatas makhluk Allah lainnya, dengan menjadikan mereka mampu berjalan di daratan maupun di lautan, dan memberi mereka makanan-makanan yang thayyib (baik) (QS. al-Isra: 70).

Keempat, Allah juga menjadikan manusia sebagai “khalifah” (QS. al-Baqarah: 30). Khalifah adalah jabatan sangat prestisius yang tidak diberikan kepada makhluk lain, bahkan kepada Malaikat sekalipun. Dengan menjadi “khalifah” artinya manusia diberi keleluasaan untuk me­ngelola bumi ini dan segala isinya untuk kesejahteraan umat manusia. Sebagai imbalannya manusia harus tunduk pada aturan-aturan Allah. 

Kelima, Terkait misi kekhalifahan di atas, Allah telah menciptakan piranti lunak pada diri manusia yang sangat penting dalam kehidupannya untuk berfikir, meneliti, melakukan sesuatu yang bisa menyejahterakan mereka, membangun peradaban di bumi ini. Piranti tersebut adalah akal dan otak yang ada pada setiap manusia. Dengan piranti ini manusia mampu mengenali alam semesta, mengetahui perbedaan antara baik dan buruk, dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan ini al-Qur’an sering mengungkap anggota tubuh yang sangat terkait dengan akal manusia, yaitu alat pendengaran (as-sam’), penglihatan (al-bashar) dan hati kecil (al-fu’ad). Itulah saluran-saluran informasi bagi setiap manusia, sehingga informasi tersebut mengendap untuk digunakan sesuai dengan kebutuhan manusia. Karena itu manusia akan diminta pertanggungjawaban atas pemakaian tiga raga tersebut. Apakah digunakan untuk hal yang positif atau sebaliknya.

Al-Qur’an sering menghimbau manusia agar selalu menggunakan akal pikirannnya baik untuk mengamati Kitabullah besar yaitu alam semesta, maupun Kitabullah kecil yaitu al-Qur’an. Juga agar berfikir tentang kejadian masa lalu sebagai pelajaran bagi generasi masa kini dan akan datang.

Redaksi himbauan al-Qur’an tersebut sangat beragam. Di antaranya adalah ungkapan yang berasal dari kosa kata tadabbur (menghayati), tafakkur (memikirkan), tadzak­kur (mengingat), an-nazhar (mengamati), at-ta’aqqul (meng­gunakan akal pikiran), i`tibar (mengambil pelajaran), al-`ilm (pengetahuan), al-ma’rifah (pengetahuan), asy-syu`ur (perasaan), dan lain sebagainya.

Semua ungkapan itu merupakan himbauan al-Qur’an kepada manusia agar mengoptimalkan otak, akal pikiran, perasaan untuk terus menerus bekerja, meneliti, merenung, dan seterusnya, demi kebaikan manusia baik untuk kesejahteraan di dunia maupun kesudahan yang baik di akhirat. Inilah kebahagiaan yang hakiki yang didambakan oleh semua orang.

Karena itu, kita jadi mengerti mengapa Allah sangat tidak berkenan jika manusia mengkonsumsi makanan atau minuman yang memabukkan atau mengganggu akal pikiran mereka. Pasalnya, pada saat manusia mabuk, daya kerja otak akan tidak berfungsi sementara waktu. Jika manusia sering mabuk, maka otaknya tidak akan bisa bekerja lagi. Artinya, jika Allah melarang manusia mengkonsumsi makanan dan minuman yang memabukkan dan mengancam dengan hukuman tertentu, hal itu tidak lain adalah bentuk rasa kasih sayang-Nya kepada manusia demi kebaikan mereka juga.

 

Keistimewaan ilmu dan keunggulan orang yang berilmu

Masih terkait dengan keunggulan manusia, al-Qur’an ke­mudian menempatkan mereka yang berilmu pada tempat yang tinggi. Hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh keterangan ayat yang menyatakan tingginya derajat pemilik ilmu:

Pertama, Allah menyuruh Malaikat menghormati Nabi Adam, karena Nabi Adam berilmu. Ia sanggup menyebutkan nama-nama benda dan kegunaannya. Sementara Malikat tidak memilikinya (QS. al-Baqarah: 34).

Kedua, Orang-orang yang mempunyai ilmu, bersama-sama dengan Allah dan para Malaikat-Nya, menjadi saksi atas keesaan Allah (QS. alu `Imran: 18 ).

Ketiga, Orang yang berilmu meyakini al-Qur’an itu adalah benar dari Allah. Mereka akan beriman, menundukkan diri, dan hati mereka takut kepada kebesaran Allah (QS. al-Hajj: 54 ).

Keempat, Orang yang berilmu mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke Palestina dalam sekejap mata saja (QS. an-Naml: 40 ).

Kelima, Burung Hud-hud berbangga dan “menepuk dada” di hadapan Nabi Sulaiman bahwa dirinya lebih mengetahui tentang satu kerajaan yang dipimpin seorang ratu. Suatu hal yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman (QS. an-Naml: 22 ).

Keenam, Orang yang berilmu tidak sama dengan mereka yang tidak berilmu (QS. Az-Zumar: 9 ).

Ketujuh, al-Qur’an menempatkan kaum yang berilmu dan beriman pada tingkatan yang tinggi di dunia dan akhirat (QS. al-Mujadilah: 11).

Kedelapan, Binatang pemburu, seperti anjing  yang sudah dibekali ilmu berburu oleh majikannya, jika ia menerkam buruannya maka hukum binatang buruannya tersebut halal (QS. al-Maidah: 4).

Dalam kasus Indonesia, ajaran al-Qur’an tentang tampak telah menginspirasi pada pendiri bangsa ini. Wujudnya dapat dilihat pada Mukaddimah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Mereka menghendaki salah satu tujuan didirikannya Republik Indonesia ini adalah mencerdaskan dan menye­jahterakan bangsa Indonesia, dan ikut menciptakan per­damaian di dunia.

Meski dalam UUD 1945 ditegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan negara. Namun kenyataannya banyak anggota masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan yang layak. Oleh sebab itu, penulis mengusulkan agar ada terobosan-terobosan besar untuk mengatasinya. Seperti menggalakkan waqaf khairi untuk pemberdayaan umat baik tunai maupun non tunai.

Dampak Waqaf dalam pendidikan umat sangat signifi­kan. Universitas al-Azhar yang telah berdiri lebih seribu tahun sampai saat ini sanggup memberi beasiswa kepada para mahasiswa dan tampil sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mumpuni.

Terobosan lainnya adalah uluran tangan kaum aghniya (kaya) berupa beasiswa kepada kaum miskin, subsidi silang yang dilakukan oleh institusi pendidikan yang maju, dan menekan biaya pendidikan serendah mungkin agar terjangkau oleh semua kalangan.

Walhasil, jika Indonesia tidak ingin tertinggal lebih jauh dari negara-negara maju, bahkan dari negara jiran, maka dunia pendidikan harus mendapatkan prioritas yang tinggi dari negara maupun masyarakat