Friday Jul 25

Pondok Pesantren Asy-Syura Pontianak

Melakukan yang Tak Biasa

Seluruh santri mukim tidak dipungut biaya sepeser pun. Sedangkan santri kalong, ada yang membayar, dan ada pula yang gratis.

sPulang dari Pontianak, Kalimantan Barat, membawa oleh-oleh jeruk sudah biasa. Sebab, Pontianak memang terkenal dengan buah jeruknya. Tapi, pulang dari Pontianak membawa nenas, ini baru luar biasa. Nah, hal yang tak biasa itulah yang dilakukan oleh Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3) Pondok Pesantren Asy-Syura Pontianak.

Sejak beberapa tahun terakhir Asy-Syura membudidayakan tanaman nenas (Ananas comosus). Ketua LM3 Pondok Pesantren Asy-Syura Pontianak, Ustadz KH Lutfillah SPdI, mengatakan tanaman nenas ini dibawa oleh kakeknya, H Abdul Aziz, dari Pulau Jawa. “Kakek saya yang merintis perkebunan nenas di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh ini,” terang Lutfi, panggilan akrab KH Lutfillah.

Menurutnya, sang kakek mengajarkan kepadanya bagaimana berbudidaya nenas. Saat itu Abdul Aziz membuka hutan dan menanaminya dengan nenas. “Kakek mengatakan bahwa hutan tidak selamanya ada. Karena itu kita harus hidup dari pertanian. Maka ditanamlah nenas sebagai pilihan komoditi,” lanjut Lutfi.

Menikmati nenas di Pontianak yang udaranya relatif panas menyengat memang menyegarkan. Tak heran jika kios nenas milik Asy-Syura yang terletak di pinggir jalan raya Pontianak-Putussibau itu banyak dikunjungi konsumen, termasuk mereka yang dalam perjalanan menuju daerah perbatasan dengan Malaysia.

Sejarah pesantren

Pondok Pesantren Asy-Syura mulai dirintis pendiriannya oleh H Abdul Aziz di zaman penjajahan Jepang, 1942-1945. Saat itu Abdul Aziz mengadakan pengajian dengan sistem halaqah di masjid. Pengajian ini kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Baedowi, yang tak lain adalah ayah Lutfi. Pada 1970 berdirilah lembaga pendidikan diniyah. Dan tahun 1987 lembaga pendidikan ini resmi berbadan hukum.

Pondok pesantren yang berlokasi di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, itu kini berdiri di atas lahan 6,5 hektar. Di sini ada sekolah jenjang taman kanak-kanak atau raudhatul athfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan madrasah aliyah (MA). “Ke depan kami ingin mendirikan SMK (sekolah menengah kejuruan) pertanian,” lanjut Lutfi.

Pondok Pesantren Asy-Syura mempunyai 340 santri. Dari jumlah ini, yang tinggal di pondok (mukim) cuma 40 orang. Sisanya adalah santri kalong alias santri yang tinggal di rumahnya masing-masing.

Seluruh santri mukim tidak dipungut biaya sepeser pun. Sedangkan santri kalong, ada yang membayar, dan ada pula yang gratis. Sekitar 80 persen santri gratis. “Mereka yang mampu, ya harus membayar,” jelas Lutfi.

Alumnus Pondok Pesantren al-Amin, Prenduan, Sumenep, Madura, itu menambahkan, santri Asy-Syura sebagian besar berasal dari Pontianak dan kota-kota lain di Kalimantan Barat. Mereka diasuh, dibina, dan dididik oleh 45 orang guru.

Di samping para guru, Asy-Syura juga memiliki kader. Saat ini empat kader putri dan lima kader putra sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren al-Amin Prenduan, Sumenep, Madura.

Di komplek  pesantren juga ada masjid, asrama santri putra, asrama santri putri, lapangan olahraga, perumahan guru/ustadz, koperasi pondok pesantren (kopontren), dan tentu saja kebun nenas.

Bantuan program LM3

Selain lahan 6,5 hektar yang digunakan untuk tempat pendidikan, Asy-Syura juga mempunyai lahan seluas 15 hektar yang digunakan untuk kegiatan LM3. Lokasi lahan ini sekitar 3 km dari Pondok Pesantren Asy-Syura. Dari lahan 15 hektar itu, hanya 5 hektar saja yang telah dimanfaatkan untuk perkebunan nenas. Sedangkan sisanya masih berupa hutan. “Kami belum bisa menggarap semuanya karena keterbatasan modal,” aku kiai berdarah Madura itu.

Setiap hektar lahan terdapat 5.000-10.000 tanaman nenas. Setiap bulan, dari lahan 5 ha itu bisa dihasilkan sekitar 20 ribu buah nenas. Jika harga nenas Rp 1.000 per buah (seperti harga saat ini di lokasi), maka setiap bulan bisa dihasilkan Rp 20 juta.

Selain dijual langsung dalam bentuk buah segar, nenas hasil panen LM3 Asy-Syura juga dibuat industri selai nenas. Namun industri itu masih dalam skala home industry (industri rumahan).

Yang unik, budidaya nenas dilakukan tanpa menggunakan pupuk kimia seperti urea. Alasannya, “Biar rasa nenasnya lebih enak,” terang Kiai Lutfi.

Ayah dua anak itu menyebutkan, pada 2009 LM3 yang dipimpinnya memperoleh bantuan program LM3 dari Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Rp 75 juta. Bantuan ini digunakan untuk mengembangkan perkebunan nenas. Setiap tahun modal itu terus berkembang. Dan tahun 2012 ini, modal tersebut meningkat menjadi Rp 325 juta.

Atas keberhasilannya, tahun 2011 Asy-Syura kembali memperoleh bantuan untuk program LM3 Model sebesar Rp 100 juta. Kali ini bantuan datang dari Badan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian. Bantuan ini digunakan untuk keperluan pelatihan pertanian. Lutfi menyebutkan, sampai saat ini LM3 Asy-Syura telah memberi pelatihan untuk 40 orang. Mereka adalah anggota gabungan kelompok tani (Gapoktan), para ustadz, dan LM3 yang lain.

Para santri, khususnya siswa MA, dilibatkan dalam usaha agribisnis LM3 Asy-Syura. Mereka ikut membantu dalam kegiatan menanam, pemeliharaan tanaman, memanen, dan menjual hasil panen. “Para santri perlu dilibatkan agar mereka mengenal agribisnis. Apalagi sebagian besar santri berasal dari keluarga petani,” ujar Lutfi.

Setiap Ahad pagi para siswa MA itu diajak ke kebun dengan bimbingan Suwandi (24 tahun). Pria kelahiran Pontianak itu sudah belasan tahun tinggal di pondok. Kini ia dipercaya membimbing para santri untuk berkebun.

Selain itu, LM3 Asy-Syura mempekerjakan 6-10 orang dengan sistem borongan. Seluruhnya adalah wali santri.

Lutfi mengatakan, salah satu kendala LM3 yang dikomandoinya adalah tidak tersedianya sumberdaya manusia (SDM) yang benar-benar menguasai budidaya nenas. SDM yang ada saat ini lebih sebagai tenaga kasar. Karena itulah pihaknya merasa perlu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk peningkatan produksi, budidaya, dan pascapanen nenas.

“Kami masih mengalami kendala SDM, kalau pemasaran nggak ada masalah,” papar pria kelahiran Pontianak, 25 Oktober 1977, itu.

Selama ini LM3 Asy-Syura memperoleh pendampingan dari Badan SDM Kecamatan dan Dinas Pertanian Kabupaten.

Manfaat LM3

Ustadz Lutfi mengaku bersyukur bisa menerima bantuan program LM3. Sebab, program ini sangat bermanfaat. Bahkan mendatangkan beberapa manfaat. Pertama, program LM3 memperkuat hubungan silaturrahim antara pondok pesantren dengan masyarakat, santri, dewan guru, dan bahkan dengan konsumen.

Kedua, LM3 bisa menjadi ajang belajar para santri dalam beragribisnis. Ketiga, program LM3 telah menjadi modal usaha pondok.

Lutfi menyebutkan, jika agribisnis milik Pondok ini makin berkembang, maka makin banyak masyarakat yang bisa dibantu oleh Pondok. Makin banyak SDM yang bisa dibina. “Yang kami pikirkan adalah bagaimana pondok pesantren ini bisa membantu umat dan masyarakat. Seluruh fasilitas yang ada di sini untuk umat,” tandasnya.

Karena itulah ia berharap ke depan program LM3 ini bisa lebih banyak membantu masyarakat. Termasuk melalui LM3 yang lain. “Kami ingin yang lain juga maju,” ujar Lutfi.

Selain usaha agribisnis, Pondok Pesantren Asy-Syura juga memiliki unit usaha lain seperti industri meubel, tata rias pengantin dan penyewaan tenda, serta koperasi pondok pesantren.

Ditiru masyarakat

Sejak LM3 Asy-Syura sukses dengan tanaman nenas, masyarakat sekitar banyak yang beralih menanam nenas. Salah satunya adalah Syafi’i. Pria 42 tahun yang sejak 1988 menanam jagung ini, kini beralih ke nenas. Alasannya, nenas lebih menguntungkan.

Sebagaimana pondok yang tidak menggunakan pupuk kimia, Syafi’i juga tidak menggunakan pupuk kimia dalam budidaya nenas. “Apa yang dikerjakan oleh Pondok, itu yang kami lakukan,” aku Syafi’i yang memiliki lahan sendiri seluas 3 ha.

Dalam sehari ia bisa menjual 100-150 buah nenas dengan harga Rp 1.500-2.000 per buah. “Nenas kami biasanya dijual di daerah perbatasan Malaysia,” terang Ketua Kelompok Tani (Poktan) Tunas Baru yang beranggotakan 30 petani itu. Setiap petani anggota Gapoktan “Galang Bersatu” itu minimal mempunya 1 ha lahan.

Umumnya para petani menjual nenas dalam keadaan segar. Dari Pontianak, nenas-nenas itu dikirim ke kota-kota lain di Kalimantan Barat.

Saat musim raya tiba, harga nenas jatuh sampai ke level Rp 400 per buah. “Kendala kami, di sini tidak ada pabrik pengolahan nenas,”  ujar Syafi’i. Karena itulah tak berlebihan jika LM3 Asy-Syura mulai merintis usaha industri selai nenas. (rusdiono mukri)

 

===================================

Susunan pengurus LM3 Asy-Syura Pontianak

Ketua                    : Ust Lutfillah SPdI

Sek                         : Ust Mukhlis, SPdI

Manajer               : Ust Mas’ud, SPDI

Bendahara          : Ustz Maryatun

 

 

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k