Tuesday Jul 29

Silaturrahim dalam Pandangan Islam

Oleh Alif Cahya Setiyadi MA
Dosen Fakultas Tarbiyah Institut Studi Islam Darussalam Gontor
 

Silaturrahim merupakan bentuk ibadah yang agung dan refleksi dari akhlak mulia, yang diajarkan dan sangat dianjurkan oleh Islam.  Allah Ta’ala telah menyeru hamba-Nya agar menyambung tali silaturrahim dalam sembilan belas ayat di dalam Kitab-Nya yang mulia. Dan Allah juga mengancam orang yang memutuskan hubungan silaturrahim dengan laknat dan azab. Hal ini menunjukkan besarnya nilai silaturrahim dalam Islam. Konsep silaturrahim dalam Islam memiliki tinjauan yang lebih luas dan komprehensif, mencakup dimensi duniawi dan akhirat dari manusia itu sendiri.

Makna silaturrahim
Kata silaturrahim merupakan bentuk frasa Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata dasar shilah dan rahim. Kata shilah adalah bentuk kata benda yang lahir dari derivasi kata kerja washala-yashilu yang memiliki dua makna dasar: Pertama, makna fi’li atau perbuatan yang berarti perbuatan yang menyebabkan hubungan dalam sebuah keselarasan. Kedua, makna mashdari yang berarti suatu penghubung yang dapat berupa pemberian dalam kebaikan. Dari kedua makna tersebut dapat disimpulkan bahwasanya shilah adalah perbuatan yang berupa pemberian-pemberian dalam kebaikan untuk menjalin hubungan dalam sebuah keselarasan.
Kata kedua yaitu rahim berasal dari kata rahima-yarhamu. Kata ini juga memiliki dua arti dasar yaitu: Pertama, makna fi’li yang berarti menyayangi dan berlemah lembut. Kedua, makna mashdari yang menunjukkan makna rumah atau wadah tempat tumbuhnya anak. Makna masdhari ini merupakan makna leksikal (anatomi) yang bermakna majazi, yaitu kerabat. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa ar-rahim secara umum berarti kerabat dekat yang memiliki garis keturunan yang berhak mewarisi atau tidak dan sebagai mahram atau tidak. Dari 

dua istilah tersebut dapat dilihat makna rahim yang menunjukkan kasih sayang terhadap kerabat dekat karena memiliki hubungan kedekatan baik keturunan (nasab) maupun pernikahan.
Dari perpaduan dua kata dasar shilah dan rahim dan maknanya, akan terbentuk frasa shilaturrahim yang memiliki dimensi pemaknaan. Kata ini secara bahasa merupakan bentuk kinayah yang menunjukkan perbuatan baik kepada para kerabat dekat baik menurut garis keturunan maupun perkawinan. Wujudnya bisa dalam bentuk jalinan interaksi, berlemah lembut dan mengasihi serta saling menjaga di antara mereka demi tercapainya kehidupan yang harmoni.

Bagaimana Islam memandang silaturrahim?
Makna silaturrahim dalam telaah bahasa di atas terbatas pada hubungan interaktif dalam hal kebaikan antarsesama manusia. Artinya cakupan interaksi tersebut dibatasi oleh interaksi horizontal yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tujuan dari silaturrahim di sini terbatas pada penekanan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan tidak menyentuh ranah akhirat manusia sebagai hamba Sang Pencipta. Sedangkan dalam Islam makna silaturrahim lebih luas dan komprehensif.
Islam menjadikan silaturrahim sebagai bentuk hubung­an dalam menyampaikan kebaikan dan menolak kejelekan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan. Nilai kebaikan dengan keluasan makna dan keragaman bentuk dalam pengaplikasiannya oleh manusia selama hidup. Makna silaturrahim dalam Islam tidak hanya berarti sebagai hubungan antara kerabat yang memiliki garis keturunan ataupun perkawinan. Akan tetapi lebih pada hubungan garis keimanan yang didasari oleh iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Silaturrahim dalam konteks ini merupakan hubungan iman seagama (ash-shilah al-imaniyah) yang dilandasi oleh kesamaan dan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Makna silaturrahim dalam Islam mencakup dua dimensi dasar yaitu, dimensi individual dan dimensi sosial manusia. Dimensi individual memiliki ikatan erat dengan hubungan antara pribadi manusia dengan Rabb-nya. Hubungan ini merupakan bentuk hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta dengan berorientasi pada terciptanya kehidupan yang baik di akhirat. Silaturrahim dalam dimensi vertikal hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta adalah merupakan bentuk jalinan yang sudah ditetapkan Allah SWT. Sebagimana telah disebutkan dalam hadis Qudsi bahwasa Allah SWT telah menciptakan rahim dan memberikan makna yang sepadan dengan salah satu asma-Nya (ar-rahim). Oleh sebab itu, siapa yang menjalin silaturrahim maka akan terbentuk jalinan antara Allah SWT dengan hamba tersebut. Dan siapa yang memutus tali silaturrahim maka terputuslah jalinan tersebut.
Dimensi ini akan selalu dihiasi oleh pengabdian-pengabdian hamba kepada Allah SWT dalam bentuk ibadah. Menghiasinya dengan amal ibadah yang sudah ditetapkan syariat Islam berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Silaturrahim dalam dimensi ini menunjukkan jalinan yang baik dalam kedekatan dan kekerabatan ilahiyah ubudiyah yaitu Rabb dengan hamba-Nya. Pengertian ini menggambarkan adanya kedekatan Allah SWT dengan hamba-Nya yang tidak mungkin bagi hamba untuk tidak didampingi Allah SWT dalam kesehariannya. Begitu juga dalam hubungan hamba kepada Allah SWT yang tecermin dalam shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lain sebagai pengabdiannya langsung kepada Allah. Dalam shalat, misalnya, seorang hamba diajak untuk melakukan silaturrahim dengan Penciptanya, begitu juga dengan puasa dan amalan-amalan yang lain.
Selanjutnya dimensi horizontal silaturrahim lebih me­nekankan pada interaksi manusia dengan sesamanya. In­teraksi ini didasari oleh keyakinan bahwa semua manusia adalah bersaudara dan bahwa anggota masyarakat Muslim adalah saling bersaudara. Silaturrahim dalam bentuk ini adalah pangkal perwujudan persaudaraan dalam persamaan cita dan rasa dalam mewujudkan ukhuwah islamiyah. Hubungan horizontal merupakan akhlaqul karimah manusia dalam al-Qur’an  yaitu  akhlak individu ter­hadap keluarga dan masyarakat.
Silaturrahim antarmanusia menunjukkan bentuk kebutuhan sosial manusia dan aplikasi dari substansi manusia sebagai makhluk sosial. Bentuk nyata dari hubungan sosial ini dapat berupa silaturrahim antara suami dengan istri, anak dengan orangtua, antaranggota keluarga, kerabat dekat, dan masyarakat umum. Setiap interaksi dalam hubungan horizontal ini dilandasi oleh iman dan tidak hanya kedekatan nasab. Kesamaan imanlah yang akan memandu setiap kebaikan yang di­lakukan dalam jalinan ini. Iman akan memberikan cahaya penerang dalam perjalanan mewujudkan ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) yang pada akhirnya dapat membentuk tatanan kehidupan sosial manusia yang teratur dan harmonis. Hakikat silaturrahim ini telah di diatur dalam al-Qur’an dan Sunnah, baik dari segi ragam, bentuk, adab, bahkan azab bagi pemutus tali silaturrahim.
Itulah bentuk silaturrahim dalam Islam yang setiap interaksinya baik vertikal maupun horizontal memiliki aturan, adab, dan akhlak tertentu, yang harus selalu diperhatikan dalam tataran aplikasinya. Dalam silaturrahim vertikal, shalat adalah salah satunya yang memiliki tata aturan, adab, dengan segala yang berkaitan dengannya. Begitu juga dalam silaturrahim horizontal yang juga memiliki tata cara, adab, dan akhlak tersendiri. Misalnya, dalam interaksi antara suami dengan istri yang terpetakan dalam hubungan yang saling menghargai, menghormati, dan melengkapi di antara keduanya demi terciptanya satuan yang lebih besar yang harmonis. Begitu juga dengan bentuk-bentuk interaksi yang lain.  
Makna silaturrahim yang terimplementasikan dalam dua bentuk utama tersebut harus selalu dipelihara dan dilaksanakan. Keberadaannya wajib untuk dijaga oleh setiap Mukmin agar terbentuk harmoni, keseimbangan antara intensitas hubungan vertikal dan horizontal. Sehingga akan tercapai kedua orientasi dasar silaturrahim yaitu kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, kehidupan yang menjadi dambaan setiap makhluk. Wallahu a’lam bish-shawab.

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k