Monday Sep 01

Kontribusi Islam dalam Sejarah Peradaban Barat

sDunia Barat, khususnya Eropa dan Amerika Serikat, dianggap sebagai pusat kemajuan peradaban dunia. Barat, kini telah menjadi kiblat peradaban dunia. Tak terkecuali di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di balik kejayaan peradaban Barat sekarang, ada sebuah realitas sejarah yang tidak banyak diketahui masyarakat dunia. Sebuah fakta sejarah yang menyatakan dengan tegas bahwa semua kejayaan peradaban Barat tidak pernah luput dari jasa dan kontribusi besar para ilmuwan Muslim pada abad pertengahan.

Umat Muslim telah lebih dulu mencapai puncak kejayaannya pada abad pertengahan. Pada abad ke-13 M terjadilah invasi kejam bangsa Mongol yang berhasil memorak-porandakan khazanah Islam buah karya para Ilmuwan Muslim terdahulu. Invasi ini dimulai pada tahun 1206, dipimpin oleh Jengis Khan dan anak keturunannya.

Akibatnya, hampir tidak ada satu peradaban Islam pun yang tersisa di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Seiring dengan itu, pada tahun 1258, pasukan Mongol kembali mengincar pusat peradaban Islam di Baghdad. Semua bangunan kota dihancurkan berkeping-keping, mushaf al-Qur’an diinjak-injak, masjid dijadikan sebagai kandang kuda, perpustakaan dibakar, dan ribuan buku-buku serta manuskrip tulisan para ulama terdahulu dihanyutkan di sungai Tigris. Kehancuran yang dialami Muslim Baghdad ini dianggap sebagai era kemunduran peradaban Islam di abad pertengahan.

Dan tidak berhenti di situ, bangsa Mongol melanjutkan invasinya ke arah Mesir dan Mediterania. Beruntung, semua dapat dikendalikan oleh pasukan Islam dari Dinasti Mamluk sehingga pasukan Mongol mundur. Seandainya pasukan Islam tidak berhasil menghadapi mereka, maka yang ada kini tidak akan kita temui lagi wilayah-wilayah bersejarah yang menyimpan sejuta peradaban Islam di masanya dulu.

Tidak seperti yang terjadi sekarang, di mana para ilmuwan yang terkenal hampir keseluruhan berasal dari Barat. Dulu, para ilmuwan Muslim seperti al-Biruni, Ibnu Sina, al-Battani, dan lainnya telah terlebih dulu mewarnai dunia ilmu pengetahuan. Mereka banyak menguasai ilmu kedokteran, perbintangan, perhitungan, hadis, fikih, dan masih banyak lagi. Sayangnya, prestasi gemilang tersebut tidak diakui lagi oleh bangsa Barat atau mungkin sengaja mereka tutup-tutupi demi menjaga citra kegemilangan mereka kini.

Transformasi ilmu pengetahuan Islam ke dunia Barat dikemukakan oleh Mehdi Nakosteen, seorang penulis buku Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat: Diskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, terbangun melalui dua cara. Pertama, melalui para mahasiswa dan cendekiawan Eropa Barat yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi ataupun universitas Islam di Spanyol. Kedua, melalui hasil karya cendekiawan Muslim yang berhasil diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka sendiri.

Ilmu-ilmu yang diajarkan dalam agama Islam bagi umat manusia adalah sebuah harta karun yang sangat menarik dan didambakan oleh semua pihak, tidak terkecuali pihak non-Muslim. Pada tahun 1213 di Eropa berdirilah sebuah universitas pertama mereka yaitu Universitas Paris dan pada akhir abad pertengahan disusullah pendirian 18 universitas lainnya di Eropa. Di universitas-universitas tersebut diajarkan pula ilmu-ilmu dari ilmuwan Islam seperti, ilmu falak, filsafat, kedokteran, yang diadopsi dari universitas Islam.

Pemuda Eropa dahulu memang banyak yang menuntut ilmu di universitas Islam di Spanyol seperti Cordoba, Sevilla, Malaca, Granada, dan Salamanca. Saat belajar, mereka bukan hanya sekadar duduk dan mendengarkan, tetapi mereka juga aktif menerjemahkan buku-buku buah karya para intelektual Muslim. Sepulangnya mereka ke negerinya, mereka pun mendirikan sekolah dan universitas yang sama.

Berkat kerja keras mereka mengadopsi dan menerapkan khazanah keilmuan Islam, akhirnya muncullah tunas-tunas baru sarjana keilmuan Barat yang dibanggakan masyarakat Eropa.

Petrus Alfonsi salah satunya. Ia adalah seorang sarjana Eropa yang dahulunya menggeluti ilmu kedokteran pada salah satu fakultas kedokteran di Spanyol. Ketika selesai belajar dan kembali ke negerinya, Inggris, ia dipercaya oleh Raja Henry I untuk menjadi dokter pribadinya. Selain itu, bekerjasama dengan Walcher, ia juga dipercaya untuk menyusun mata pelajaran ilmu falak berdasarkan ilmu yang didapatkannya di Spanyol.

Sementara itu Mehdi Nakosteen dan Samsul Nizar, penulis buku Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam: Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, menambahkan bahwa proses transformasi penyebaran pengetahuan Islam terjadi melalui berbagai jalur. Jalur tersebut antara lain, pertama, jalur Andalusia, yakni ketika Islam mulai masuk ke Andalusia yang dibawa oleh Thariq.  Kedua, melalui Pulau Sisilia yang berhasil ditaklukan kaum Muslimin melalui tangan Dinasti Aghlabiyyah yang berkuasa di kawasan Tunis dan Aljazair saat itu. Ketiga, melalui Perang Salib yang merupakan proses pertukaran peradaban antara dua bangsa di Laut Tengah. Keempat, jalur perdagangan antara Barat dan Timur melewati Mesir sejak Dinasti Fathimiyyah berkuasa di negeri tersebut. Kelima, jalur pendidikan seperti pendirian sekolah dan universitas Islam, dan penerjemahan karya-karya ilmuwan Muslim ke dalam bahasa Latin.

Berikut beberapa kontribusi intelektual Muslim dalam peradaban dunia di berbagai bidang:

 
1. Astronomi

Astronomi atau ilmu falak adalah salah satu bidang ilmu yang paling digemari oleh para ilmuwan Muslim selain matematika. Hal ini disebabkan karena kedua bidang ilmu tersebut sangat mendukung peribadatan Islam, seperti dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan sebagainya. Di antara para ahli astronomi Muslim yang tersohor adalah: al-Biruni, al-Battani (ia termasuk dalam 20 besar ahli astronomi penting dunia), Abul Wafa (penemu kemiringan bulan), Hassan Ibn Haitam (penemu optik yang menjadi dasar teropong Roger Bacon dan Kepler), dan lainnya.

2. Matematika

Ilmu matematika dalam bahasa Arab disebut aljabar (perhitungan), sedangkan istilah algoritme adalah berasal dari nama penemunya yaitu al-Khawarizmi, yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Musa bin Khawarizmi. Ia merupakan salah satu ahli matematika Muslim terkenal di masa khalifah al-Ma’mun. Ia  menulis buku aljabar.

3. Fisika

Ilmu fisika juga berhubungan erat dengan ilmu astronomi. Sehingga karya-karya tentang optik yang ditemukan oleh Hassan Ibn Haitam (965-1039 M) dijadikan dasar bagi bangunan ilmu fisika, yakni dasar bagi Bacon dan Kepler dalam penemuan teropong, teleskop maupun mikroskop dan dasar dari fotografi.

4. Kimia

Meskipun bangsa Yunani telah mengenal sejumlah zat kimia, namun mereka tidak tahu apa-apa mengenai subtansi unsur-unsur zat kimia, seperti: alkohol, asam sulfur, maupun asam nitrat. Orang Arablah yang menemukan itu semua, yang bersamaan dengan penemuan potasium, asam amoniak, nitrat perak, dan merkuri. Maka, tidak heran jika berbagai istilah penting dalam kimia juga berasal dari bahasa Arab, seperti; alkohol, alembrik, alkali, dan kimia itu sendiri. Salah satu ilmuwan Muslim yang membidangi kimia adalah Abu Musa Jakfar al-Kufi.

5. Ilmu Hayat

Dalam bidang ilmu hayat, bangsa Arab tidak berpuas diri dengan hasil dari penerjemahan karya-karya bangsa Yunani. Bangsa Arab pun melakukan kajian dan observasi sendiri secara intensif. Sehingga tidak heran jika mereka berhasil memperkaya daftar macam-macam tumbuhan yang tercantum dalam “Daftar Dioscorides” yang berisi sekitar 2000 spesies. Farmapodia atau sejenis ensiklopedia tetumbuhan obat yang disusun bangsa Arab Muslim berisi berbagai macam tumbuhan dan bahan-bahan obat yang belum dikenal bangsa Yunani, seperti: kaper, daun senna, tamarin, kasia, dan mauna.

6. Ilmu Kedokteran

Salah seorang ahli kedokteran Muslim yang sangat terkenal di dunia Barat adalah Abu Ali al-Hussein bin Abdallah ibn Sina, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Sina atau Avicenna. Bukunya yang berjudul al-Qanun fi at-Tib atau petunjuk tentang kedokteran. Buku tersebut berisi tentang lima hal, yaitu fisiologi, kebersihan, patologi, pengambilan terapi, dan materi pengobatan.

Selain itu Ibn Zohr juga merupakan salah seorang ahli kedokteran yang terkenal karena dialah yang telah memperkenalkan aspek hukum dalam observasi bidang kedokteran. Ia juga menemukan kekuatan dari jenis penyakit tertentu.

Kemudian Ibn Nafis dari Siria yang pada tahun 1289 telah berhasil mempertontonkan sistem sirkulasi darah secara akurat, tiga ratus tahun sebelum Servert, seorang dokter kebangsaan Portugis yang selama ini dianggap sebagai penemu pertama.

7. Filsafat

Ibn Sina atau Avicenna juga merupakan seorang ahli filsafat. Ia telah membentuk sistem keilmuan dan pandangan filsafat skolastiknya secara gamblang. Adapun karya-karya utamanya antara lain Kitab al-Shifa (Buku Penyembuhan), dan Kitab al-Isharat wa’l Tanbihat (Pegangan Bagi Pengajaran dan Peringatan).

Upaya penerjemahan karya-karyanya dimulai sejak abad XII dan semenjak itu para pemikir Arab mulai mewarnai pikirannya sesuai apa yang diterapkan oleh Ibnu Sina. Sementara itu Abdul Wahid Muhammad Ibn Rushd atau Averroes dalam banyak hal lebih berpengaruh ketimbang Avicenna, berkat bukunya yang mengomentari karya filsafat Aristoteles.

8. Sastra

Para ilmuwan Muslim juga memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia Barat di bidang sastra. Hal ini terbukti dari hasil kajian Asian Palacios atas karya-karya surealism dalam Islam dan atas buku La Devina Comedia karya Dante Aleghery yang menyimpulkan bahwa Dante telah mendapat pengaruh yang besar dari karya mistik Muhyidin ibn Arabi maupun penyair buta Abul Ala al-Maari. Sedangkan novel bernilai filsafat dari Ibn Tufail, Hayy ibn Yaqzan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Edward Pococke pada tahun 1671 dan buku inilah yang mengilhami Daniel Defoe dengan kisahnya Robinson Crusoe.

 

9. Geografi dan Sejarah

Masyarakat Arab dikenal gemar mengarungi pulau maupun benua untuk berdagang. Karena itu mereka harus menguasai geografi maupun sejarah setiap kawasan yang akan dijelajahi. Hal inilah yang menjadi latar belakang untuk menekuni ilmu-ilmu geografis maupun sejarah. Dalam bukunya yang berbahasa Inggris berjudul Golden Pastures, Hasan Ali al-Masudi memaparkan gambaran lengkap tentang setiap negeri yang pernah dikunjunginya pada pertengahan abad ke-10. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa selama lebih dari tiga abad para ahli kartografi Eropa senantiasa mengutip karya-karya geografi Muslim, seperti karya Nasrudin Tusi maupun hasil observasi al-Koshaji yang telah berhasil menuyusun hasil petualangannya di Cina dan mengoreksi perhitungan garis lintang bumi maupun ukuran bumi.

Sedangkan di bidang sejarah, Ibn Miskawaih merupakan seorang sejarawan Muslim terkenal yang meninggal pada tahun 1030. Dalam bukunya yang berjudul Tajarib al-Umam (Pengalaman Bangsa), ia memaparkan kisah sejarah tentang  Persia dan Arab sampai dengan masa hidupnya dan menyatakan bahwa penyerbuan Arab atas Persia telah terjadi sejak jauh sebelum Islam lahir.


10. Sosiologi dan Ilmu Politik

Ibn Khaldun (1332-1406 M) merupakan pemikir filsafat sosiologi dan sejarah yang terkenal dalam peradaban Islam. Salah satu bukunya yang disebut sebagai Prolegomena membahas refleksi umum sejarah manusia dan berbagai macam peradaban manusia sebagai hasil dari perbedaan iklim, kehidupan kaum pengembara maupun yang telah menetap dan istiadat atau latar belakang peradaban yang berbeda, termasuk kelembagaan sosial, ilmu pengetahuan dan seni yang mereka kembangkan.

Sementara, al-Farabi menulis buku yang sangat terkenal tentang filsafat politik yang berjudul al-Madinatul Fadhilah. Dalam buku tersebut, ia menyatakan bahwa pemimpin suatu negara harus mampu memberikan jaminan agar penduduknya mencapai kehidupan yang sejahtera baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu negara harus dipimpin oleh seorang kepala negara yang memiliki kualitas sempurna, yakni: 1) tinggi kecerdasannya; 2) kuat ingatan; 3) fasih berbicara; 4) rajin bekerja; 5) sederhana; 6) luhur budi; 7) adil; 8) teguh pendirian, dan 9) konsisten.


11. Arsitektur dan Seni Rupa

Arsitektur Muslim tampak dalam bentuk istana maupun masjid yang gemerlapan yang di kemudian hari berpengaruh pada seni bangunan gereja pada abad pertengahan di Eropa. Seperti pengaruh arsitektur masjid di Cordova terhadap gereja katedral Notre Dane du Puy dalam wujud lengkungan susun tiga, cuping ganda, lengkungan sepatu kuda maupun unsur dua warna yang merupakan ciri masjid di Cordova.

12. Musik

Seorang musikus Muslim bernama Abul Hasan Ali Ibn Nafis atau sering dipanggil Ziriyab telah mendirikan konservatorium musik-musik Andalusia. Sejak itu teori musik mulai dikembangkan oleh al-Farabi, yang menulis Kitab al-Musiki (Pegangan Musik). Dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmu matematika dan fisika para penulis musik mampu memberi penjelasan secara ilmiah tentang suara dan bagaimana mendorong pembuatan instrumen musik lebih lanjut, seperti gitar, seruling, tambur, prototipe piano, organ dan sebagainya. (Edit & Devi)



Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k