Saturday Jul 26

Arti Pemuda dalam Islam

Oleh Moh Eko Hadi Kuncoro

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor

 

Pemuda berada pada masa usia yang memiliki kehebatan sendiri. Menurut Dr Yusuf Qardhawi, jika diibaratkan matahari maka usia muda sama halnya dengan pukul 12.00 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas. Pe­muda mempunyai kekuatan yang lebih secara fisik dan se­mangat bila di­­banding dengan anak kecil atau orang jompo.

Dilihat dari sejarah, pemuda mempunyai peran penting dalam kemerdekaan. Di belahan dunia mana pun, kemerdekaan tak pernah luput dari peran pemuda. Karena pemudalah yang paling bersemangat dan ambisius memperjuangkan perubahan menuju lebih baik. Hasan al-Banna seorang tokoh pergerakan di Mesir pernah berkata, “Di setiap kebangkitan pemudalah pilar­nya. Di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya.”

Begitu juga dalam sejarah Islam, banyak pemuda yang mendampingi Rasulullah SAW berjuang  menegakkan kalimat Allah. Misalnya adalah Mush`ab bin `Umair, Ali bin Abu Thalib, `Aisyah dll. Mereka punya peran penting dalam perjuangan.

 

Pemuda dan waktu dalam Islam

Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Itu merupakan nikmat besar dari Allah Ta`ala yang seharusnya di­manfaat­kan dengan sebaik-sebaiknya untuk amal kebaikan guna meraih ridha-Nya. Dan sebagimana nikmat-nikmat besar lainnya yang diterima manusia, nikmat inipun nantinya akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta`ala.

Allah berfirman, yang artinya: “Tidakkah mereka itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang dahsyat, (yaitu) hari (ketika) ma­nusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS al-Muthaffifiin: 4-6).

Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah se­luruh rangkaian saat ketika proses, per­buatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/ke­jadian, atau bisa me­rupakan lama ber­­langsung­nya suatu kejadian.

Dalam banyak ayat Allah ber­sumpah dengan waktu, seperti bersumpah dengan masa (QS al-`Ashr: 12), malam (QS al-Lail: 1-2), dhuha (QS adh-Duha: 1-2), dan lain se­bagainya.

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Allah SWT hanya ber­sumpah dengan menggunakan sesuatu yang istimewa. Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa dengan meng­gunakan waktu tersebut seorang hamba bisa mengambil pelajaran dan bersyukur,

 

 

“Dan Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS al-Furqan: 62).

Tadzakkur berarti mengingat Allah, nikmat-nikmat Allah kepada manusia, dan mengingat tujuan hidup setiap Muslim, yaitu beribadah kepada Allah dan me­makmurkan dunia. Juga, mengingat bahwa kematian adalah sesuatu yang benar-benar akan terjadi pada setiap manusia, sehingga dia harus mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

Dengan demikian tadzakkur berarti juga kesempatan untuk mengembangkan diri untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia sesama dan semesta, dan di akhirat nanti menemani para Nabi, shiddiq,  syahid dan orang-orang shaleh di surga.

Syukur berarti mensyukuri segala nikmat Allah, ke­sempatan dan potensi yang diberikan Allah kepada kita. Semua itu untuk digali, dikembangkan dan di­aktualisasi­kan untuk kepentingan masyarakat dan umat.

Allah telah menyatakan bahwa Ulul Albab adalah orang-orang yang mampu memanfaatkan waktunya untuk ketaatan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Aal `Imran: 190)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Ulul Albab bukanlah orang yang hanya mampu menghafal buku atau mampu menjawab soal-soal ujian di suatu sekolah. Tapi Ulul Albab adalah orang yang mampu melihat kejadian yang ada disekitarnya dan memanfaatkan waktu yang ada. Mereka kemudian meramunya menjadi bekal kehidupan, lalu mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi kepentingan manusia.

 

Pemuda dalam hadis

Dalam hadis, pentingnya waktu juga diungkapkan Rasulullah SAW seperti berikut, “Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai Allah menanyakan empat hal: umurnya, untuk apa selama hidup­nya dihabiskan; masa mudanya, bagaimana dia menggunakannya; hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskan; dan ilmunya, apakah dia amalkan atau tidak.” (HR Tirmidzi)

Melihat hadis di atas, masa muda mempunyai posisi yang sangat penting. Para pemuda dituntut untuk mem­berikan gebrakan dalam membangun kemajuan. Tapi bersamaan dengan itu, masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwa, yang tak jarang menyebabkan hidup­nya terguncang.

Dalam kondisi seperti itu, peluang terjerumus kedalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan setan sangatlah besar. Apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah SWT bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan menempuh segala cara,

“Iblis berkata: ‘Karena Engkau telah menghukumku ter­­sesat, aku benar-benar akan (menghalangi-halangi) ma­nusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS al-A`raf: 16-17)

Di sinilah terlihat peran besar agama Islam sebagai petunjuk. Allah Ta`ala menurunkan Islam untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup umat manusia di dunia dan akhirat.

Agama Islam memberi perhatian sangat besar ter­hadap upaya perbaikan mental para pemuda. Karena generasi muda hari ini adalah pemeran utama di masa yang akan datang. Merekalah fondasi yang menopang masa depan umat ini.

Karena itu, banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang mendorong kita agar membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah. Generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan  kecuali naungan-Nya: …dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Syaikh Salim al-Hilali menyatakan dalam kitab Bahjatun Nazhirin (1/445): “Hadis ini menunjukkan ke­utamaan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, sehingga dia selalu menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan.”

Imam Abul ‘Ula al-Mubarakfuri menjelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7/57): “Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengkhususkan penyebutan “seorang pemuda” karena usia muda adalah masa yang berpotensi besar untuk didominasi nafsu syahwat, karena kuatnya pen­dorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda. Maka, dalam kondisi seperti ini, berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah tentu lebih berat. Dan hal ini menunjukkan kuatnya  ketakwaan pemuda tersebut.”

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: “Se­sungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum ter­hadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR Ahmad, Thabrani dalam al-Mu`jamul Kabir dan lainnya). Hadis ini dinilai shahih berdasarkan jalur periwayatan­nya yang banyak. Demikian dinyatakan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 2843.

Kata shabwah yang dikaitkan dengan pemuda pada hadis di atas, dijelaskan dalam kitab Faidhul Qadir (2/263) sebagai pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya. Sebaliknya, dia membiasakan diri melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Inilah sosok pemuda Muslim yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan pandai mensyukuri nikmat yang di­anugerahkan Allah kepadanya, serta mampu berjuang menundukkan hawa nafsunya di puncak gejolaknya yang begitu kuat. Ini tentu merupakan hal yang sangat sulit dan berat, maka wajar jika kemudian Allah Ta’ala mem­berikan balasan pahala dan keutamaan besar kepadanya.

Masa muda adalah masa keemasan manusia. Masa yang sangat berharga itu tidak boleh terlewatkan begitu saja. Pemuda harus selalu melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat hingga mencapai prestasi yang gemilang. Semua itu tentu tidak akan terwujud kecuali pemuda dapat mengatur waktu dengan efektif.

Waktu yang setiap saatnya terus berganti harus di­lalui dengan perencanaan dan dipandang dengan bi­jaksa­na. Para pemuda mempunyai banyak ambisi untuk menggapai semua impiannya. Sebagai pemuda Muslim kunci mengatur waktu adalah selalu ingat kepada Allah. Dengan ingat kepada Allah, kita akan menjalankan semua yang diperintahkan oleh-Nya. Sehingga, dengan sendiri­nya kita akan terbiasa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Wallahu a`lam bish-shawab.

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k