Friday Aug 01

Dikotomi Ilmu, Sejarah dan Sikap Islam Terhadapnya

Oleh Sayyidah Khumairoh

Mahasiswi ISID Kampus Mantingan Fakultas Ushuluddin Prodi Aqidah Filsafat 4

 

Kemunduran peradaban Islam seiring dengan menurunnya semangat orang Islam dalam memperdalam intelektualitas, sains, dan pengetahuan. Penyebabnya antara lain adalah tertutupnya pintu ijtihad dalam hal agama yang mengekibatkan pengekangan terhadap kreativitas ilmuwan-ilmuwan Muslim dan dikotomi ilmu.

Dikotomi ilmu yang berarti memisahkan ilmu-ilmu agama dan non agama, sebenarnya bukan berasal dari tradisi Islam melainkan dari tradisi Barat. Karenanya, dikotomi ilmu menjadi persoalan yang terus berkembang dan berpengaruh di dunia, termasuk dunia Islam, hingga saat ini.

 

Lahir dari doktrin Barat

Dalam kajian historis, dikotomi ilmu mulai muncul bersamaan dengan masa renaissance di Barat. Berawal dari perlawanan masyarakat intelektual Barat terhadap dominasi gereja terhadap sosio-relegius dan sosio-intelektual di Eropa. Gereja kala itu melembagakan ajaran-ajaran Kristen dan mejadikannya sebagai penentu kebenaran ilmiah. Akibatnya, temuan-temuan ilmiah yang bertentangan dengan doktrin-doktrin tersebut harus dibatalkan demi supremasi gereja.

Karena tekanan tersebut, para ilmuwan melawan kebijakan gereja. Mereka mengadakan koalisi dengan raja untuk menumbangkan dominasi kekuasaan gereja. Pada akhirnya koalisi yang diadakan berhasil, dominasi gereja tumbang dan dengan sendirinya muncullah renaissance. Dalam kelanjutannya, masa renaissance ini melahirkan sekularisasi. Kemudian dalam sekularisasi ini lahirlah dikotomi ilmu.

Ajaran-ajaran agama (dalam hal ini Kristen yang dilembagakan oleh gereja) secara konseptual dan aplikatif dipandang sebagai hambatan yang serius bagi kreativitas ilmuwan dan tentu juga bagi kemajuan peradaban. Lahirnya sekularisasi yang kemudian menimbulkan dikotomi adalah dalam rangka membebaskan ilmuwan untuk berkreasi melalui penelitian, penggalian, maupun percobaan ilmiah tanpa dibayang-bayangi ancaman gereja.

 

Dikotomi di dunia Islam

Pada lima abad pertama Islam (abad ke-7 sampai 11 M.), para ilmuwan Muslim tidak mengenal pendikotomian ilmu. Namun pada perkembangan selajutnya, yaitu pada akhir abad ke-11 menjelang abad ke-12 M., dikotomi ilmu mulai menjangkiti dunia Islam. Pemisahan antara ilmu agama dan umum mulai digencarkan.

Beberapa proses dan penyebab pendikotomian ilmu di dunia Islam telah ditemukan. Madrasah, yang secara luas didasarkan pada sponsor dan kontrol negara, umumnya telah dipandang sebagai sebab kemunduran dan kemacetan ilmu pengetahuan dan kesarjanaan Islam. Tetapi madrasah dengan kurikulumnya yang terbatas, hanyalah gejala, bukan sebab sebenarnya dari kemunduran tersebut, walaupun tentu saja, ia mempercepat dan melestarikan kemacetan tersebut.

 

Pendekatan Islam terhadap dikotomi ilmu

Berbeda dengan Barat, bagi dunia Islam dikotomi bisa mengandung bahaya. Pandangan dikotomi dapat mengancam realisasi Islam dalam ke hidupan pribadi dan kebersamaan bermasyarakat, bahkan dikhawatirkan mendistorsi syari’ah. Akibat yang dirasakan di dalam masyarakat ilmu, seni, dan teknologi adalah menjadi wajarnya pendapat yang berpendirian ilmu, seni, dan teknologi adalah bebas nilai. Oleh karena itu, ilmu berkembang tanpa arah yang jelas dari perspektif kesejahteraan umat manusia.

Di negara-negara maju (Barat), para ilmuwan seperti berlomba mengembangkan sains dan teknologi yang mempunyai potensi destruktif sangat tinggi bukan saja terhadap komunitas lain, melainkan juga terhadap komunitasnya sendiri. Bisa dibayangkan jika saja beberapa negara maju terlibat perang dengan menggunakan kemampuan senjata dan rudal andalannya, hampir bisa dipastikan dunia ini akan hancur.          

Bila dikotomi ilmu berkembang di dunia Islam, maka di antara akibatnya adalah tersosialisasikan adanya pembelahan antara ilmu pengetahuan umum dan agama. Pengetahuan umum di samping pengetahuan yang mencakup berbagai disiplin dan bidang kehidupan manusia secara kompleks dan plural, juga dimaksudkan sebagai ilmu yang tidak ada kaitan sama sekali dengan agama. Sedangkan ilmu pengetahuan agama dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan yang terbatas bahasannya pada persoalan-persoalan akidah, ibadah, dan akhlak semata. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan agama adalah ilmu pengetahuan yang wilayah bahasannya terbatas pada keimanan, ritual, dan ethik.  

Selanjutnya Umat Islam akan mengalami salah paham terhadap Islam sendiri. Agama Islam yang seharusnya memiliki ajaran yang universal, ternyata disalahpahami, sehingga dianggap hanya memiliki ruang gerak pranata kehidupan yang sempit sekali. Oleh karena itu, pembagian pengetahuan yang bersifat dikotomis itu, tentu tidak diterima oleh Islam, karena berlawanan dengan kandungan ajaran Islam sendiri. Jika ini terjadi terus-menerus, maka akan menjadi malapetaka bagi masa depan umat dan peradaban Islam, sehingga harus ada usaha keras untuk meluruskannya dalam perspektif Islam.

 

Islamisasi ilmu pengetahuan

Dalam bukunya, Epistemologi Pendidikan Islam, Mujamil Qomar menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, sains Barat modern dibangun atas dasar semangat kebebasan dan penentangan terhadap doktrin ajaran Kristen. Sehingga, ia mencoba menampilkan pola berpikir yang berlawanan dengan tradisi pemikiran agama (Kristen) sebagai antitesis. Tetapi yang paling kelihatan, bahkan disisipkan ke dalam sains Barat modern adalah sekularisasi. Konsep sekularisasi disosialisasikan dan dipropagandakan sedemikian rupa di kalangan para ilmuwan, mahasiswa, pelajar, kelompok-kelompok intelektual lainnya, dan masyarakat pada umumnya, untuk mendapatkan pembenaran-pembenaran secara ilmiah. 

Ada beberapa kelompok masyarakat yang paling dirugikan akibat penerapan konsep sekularisasi pengetahuan barat modern itu. Mereka adalah kelompok-kelompok yang memiliki ikatan moral dengan ajaran agama, terutama masyarakat Islam. Ketika mengikuti arus perkembangan sains modern dari Barat, mereka secara sadar maupun “terpaksa” harus menggantikan nilai-nilai religius dengan nilai-nilai sekular yang kontras. Selama ini agama Islam dipedomani sebagai juklak dalam menempuh kehidupan sehari-hari. Tidak ketinggalan juga, agama memiliki peranan untuk mewarnai bangunan ilmu pengetahuan dan unsur-unsur lain yang terkait. Namun kenyataannya, masyarakat Muslim seolah dipaksa untuk melaksanakan sekularisme dalam seluk beluk kehidupan lantaran derasnya arus sekularisasi. Secara ril sekarang ini mereka semakin menjauhi nilai-nilai religius Islam.

Kondisi ini yang menjadi keperihatinan para pemikir Muslim, sebab bisa membahayakan keimanan (akidah) seorang Muslim. Untuk itu, ilmuwan Muslim manggagas islamisasi pengetahuan sebagai upaya untuk menetralisir pengaruh sains Barat modern, sekaligus menjadikan Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Mereka berupaya membersihkan pemikiran-pemikiran Muslim dari pengaruh negatif kaidah-kaidah berpikir ala sains modern, sehingga pemikiran Muslim benar-benar steril dari konsep sekular.

Al-Attas, dikutip oleh Mujamil Qomar menyebutkan, bahwa islamisasi ilmu berarti pembebasan ilmu dari penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada ideologi sekular. Banyak pemahaman ilmu pengetahuan yang terlanjur tersekularkan dapat digeser dan diganti dengan pemahaman-pemahaman yang mengacu pada pesan-pesan Islam, manakala “proyek Islamisasi pengetahuan” benar-benar digarap secara serius dan maksimal.

Tujuan islamisasi pengetahuan secara substansial adalah untuk meluruskan pemikiran-pemikiran Umat Islam dari penyelewengan-penyelewengan sains modern yang sengaja ditanamkan. Fazlur Rahman menyarankan, bahwa tujuan kaum Muslim untuk mengislamkan beberapa ilmu pengetahuan tidak akan bisa tercapai sepenuhnya, kecuali bila mereka secara efektif melaksanakan tugas intelektual memerinci suatu metafisika Islam yang berdasarkan al-Qur’an.

Menurut Ismail Raji al-Faruqi bahwa kewajiban pemikir Muslim adalah melakukan islamisasi, untuk mendefinisikan dan menerapkan relevansi Islam hingga ke item-itemnya di dalam kehidupan sehari-hari. Al-Faruqi juga menawarkan konsep operasional dalam islamisasi, mulai dari penguasaan dan penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern, penguasaan khazanah Islam, hingga penuangan disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan penyebarluasan ilmu-ilmu yang telah diislamkan.          

Apabila gagasan bagi modernisasi ilmu-ilmu Islam yang lama dan islamisasi yang baru mau diciptakan, maka kedua tonggak orisinal Islam al-Qur’an dan Hadis mesti ditegakkan kembali dengan tegar, agar semua konformistas-konformitas dan deformitas-deformitas Islam historis bisa dinilai dengan jelas olehnya. Kedua sumber itu harus difungsikan untuk menjadi pedoman atau juklak dalam menilai aktivitas berpikir mereka mulai dari kerangka berpikir, tujuan berpikir, cara-cara berpikir, dan orientasi berpikirnya. Dari kedua sumber itulah dapat diketahui apakah kegiatan berpikirnya mengarah pada hasil hasil yang positif konstruktif sesuai dengan ajaran ajaran Islam. Wallahu a’lam bish shawab

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k