Tuesday Sep 02

Peran Perempuan dalam Perspektif Islam

Isu 30 persen keterwakilan dalam parlemen menjadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini. Bagi sebagian partai politik, terutama yang mendeklarasikan diri sebagai partai Islam, syarat ini cukup memberatkan. Karena dalam Islam, perempuan memiliki peran dan posisi yang penting di tengah keluarga. Tentu, bukan berarti melarang mereka untuk berkarir.

Mungkin Anda sering mendengar ungkapan: “Perempuan adalah tiang negara. Kalau perempuan rusak, maka rusaklah negara.”

“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”

“Di balik seorang pemimpin yang besar ada perempuan yang hebat.”

Ini merupakan bukti bahwa perempuan memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkiprah—baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Artinya, Islam telah memosisikan perempuan di tempat mulia sesuai dengan kodratnya. Dr. Yusuf Qardhawi pernah mengatakan, “Perempuan memegang peranan penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Jadi, mana mungkin keluarga dan masyarakat itu baik jika perempuannya tidak baik”

Secara historis, Islam telah menghilangkan kebiasaan buruk kaum Quraish jahiliah yang suka mengubur hidup bayi perempuan karena dianggap sebagai pembawa sial. Kemudian, muncul sosok-sosok perempuan hebat seperti Ummul Mukminin Khadijah yang mendukung dakwah Rasulullah SAW—baik secara material maupun spiritual. Bahkan, wafatnya Khadijah dan Abu Thalib disebut sebagai “tahun kesedihan”.

Ada juga Ummul Mukminin Aisyah binti Abubakar ash-Shiddîq. Semasa hidupnya, Aisyah telah meriwayatkan 2.210 hadis—yang terbanyak di zamannya—dan mengajar di majelis-majelis pengajian Islam yang dikhususkan bagi kaum perempuan. Karena kedalaman ilmunya, Aisyah juga sering dimintai fatwa oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Selain itu, Rasulullah dan para sahabat juga ikut andil dalam masak-memasak. Di antara mereka malah ada yang membantu mengumpulkan kayu bakar. Ini merupakan bentuk kerjasama atau berbagi tugas. Namun jika suami capek mencari nafkah, maka istri ikut bertanggung jawab membantu menyiapkan masakan bagi keluarga.

Seperti yang dialami Fatimah az-Zahra yang menumbuk gandum untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lalu, ia mengadukan tangannya kasar kepada Rasulullah SAW. Namun, beliau tidak pernah mengompori Fatimah untuk melawan kepada suami atau bahkan menyuruhnya untuk mencari pembantu.

Tentu, semua ini sangat jauh berbeda dengan realitas kehidupan perempuan di dunia Barat—baik di negara Eropa maupun Amerika. Perempuan lebih diidentikkan sebagai makhluk yang lemah. Karena itu, muncul gerakan kesetaraan gender dan feminisme. Mereka menuntut persamaan hak antara kaum laki-laki dan perempuan.

Menurut Syamsudin Arif, peneliti INSISTS, ketersanderaan perempuan dalam ruang publik dipengaruhi oleh asumsi Barat yang menganggap perempuan itu lemah—baik secara fisik maupun mental. Akar dari segala kejahatan adalah perempuan dianggap sebagai laki-laki cacat. “Asumsi inilah yang menyebabkan tumbuh suburnya gerakan kesetaraan gender dan feminisme,” kata Arif.

Perbedaan peran perempuan dalam konsep Islam dan sekuler memang sangat signifikan, karena konsep dasar yang saling bertolak belakang. Peran perempuan dalam konsep sekuler selalu berorientasikan pada apa yang bisa dihasilkan dalam bentuk materi, seperti pendapatan, keterwakilan perempuan dalam parlemen, dan lain sebagainya.

Padahal, Islam sangat menghormati perempuan—baik sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat. Sebagai keluarga, seorang perempuan memiliki peranan penting, yakni melahirkan, mengasuh, dan mendidik anak. Tidak heran ada yang mengatakan, “Ibu merupakan sekolah pertama. Jika Anda mempersiapkan perempuan dengan baik, maka anda telah mempersiapkan masa depan bangsa dengan baik.”

Menurut Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, MA., Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, perempuan sebenarnya tidak dilarang agama untuk menjadi pintar. Justru seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Seorang anak biasanya selalu melihat sosok ibu sebagai idola dan teladan, karena frekuensi kebersamaan ibu dengan anak cenderung lebih banyak daripada dengan sang ayah.

Saat ini, kita sering temui anak-anak pelajar yang ketika diperiksa tas sekolahnya, malah tertangkap basah membawa pisau, celurit, batu, dan benda-benda tajam yang biasanya digunakan untuk tawuran. Hingga tak sedikit pula korban jiwa—mencapai jumlah 80-an siswa dalam setahun.

Tindak kenakalan dan kekerasan yang dilakukan anak-anak zaman sekarang merupakan bukti kurangnya pendidikan, pendekatan, dan pengawasan dari orangtua, terlebih ibu sebagai pendidik pertamanya. “Jika sudah begini, akan jauh lebih sulit diperbaiki ketimbang ketika masih balita dulu,” tutur Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta ini.

Sayangnya, meski sudah banyak fenomena kegagalan dalam mendidik generasi baru, kaum perempuan masih banyak yang enggan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka berargumentasi, tidak ada gunanya dan hanya akan membuang-buang tenaga, pikiran, dan harta, karena mereka pasti akan ditempatkan di dapur.

Padahal, Islam sangat menganjurkan menuntut ilmu. Seorang perempuan pandai sangat diperlukan keluarga untuk mendidik dan mengajarkan ilmunya kepada sang anak. Inilah yang banyak dilakukan ulama terdahulu yang rajin belajar di rumah sampai berhasil menghafalkan al-Qur’an, hadis, sastra, dan ilmu lainnya berkat dorongan seorang ibu.

 

Membendung Gerakan Feminisme

Islam tidak melarang perempuan menjadi pemimpin, sebagaimana Ratu Balqis yang berhasil memimpin negaranya. Ini merupakan bukti bahwa perempuan pun bisa memimpin. Islam memperbolehkan perempuan memimpin di luar rumah, tapi tidak untuk di dalam rumah tangga. Lelaki adalah pemimpin bagi istri dan keluarganya tanpa terkecuali.

Jadi, perempuan tidak pernah dilarang untuk maju. Dalam banyak kasus, perempuan jauh lebih cerdas dan sukses dibanding laki-laki. Ini membuktikan, tidak semua hal bisa ditangani lelaki dan ada sebagiannya memang perlu ditangani kaum perempuan—baik mencakup dunia politik dan lainnya.

Jika kini ada pemberitaan terkait kuota 30 persen bagi perempuan di parlemen, maka itu sangat bagus, karena mereka merupakan penyambung lidah aspirasi perempuan di Indonesia. Tetapi tidak harus 100 persen. Jika semua perempuan kerja di luar rumah, siapa yang akan mendidik generasi Islam selanjutnya.

Inilah yang belum dipahami para pengusung feminisme yang ingin memunculkan peran perempuan di luar batas syariat Islam. Mereka tidak sadar bahwa Islam jauh telah menghormati kaum Hawa di atas segalanya. Bisa dibilang, kaum feminis hanya membuang-buang tenaga, pikiran, dan dana, untuk hal yang sia-sia.

Ibarat ponsel, jika dioperasikan tidak benar, maka tidak akan mendatangkan manfaat. Begitu pula dengan pemberdayaan perempuan yang di luar kodrat kewanitaannya. Semua itu akan sia-sia, dan justru menimbulkan kerusakan. Jika feminis memang benar, mengapa saat ini gaung gerakan mereka sudah jarang terdengar?

Sebagai seorang ibu, merawat dan mendidik anak merupakan hal yang paling utama. Mungkin ada yang menganggap kuno. Akan tetapi, sampai kapan pun, perintah Allah kepada para ibu untuk mengasuh dan mendidik anak akan tetap sama dan tidak akan pernah berubah sampai akhir zaman.

Menurut Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, MS., dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB, perempuan berkarir sebenarnya tidak masalah, karena itu hak dia. Tapi jangan lupa, ada juga hak untuk memilih tidak berkarir atas kesadarannya sendiri. Gender mainstream menutup hal itu, seakan-akan hidup berkualitas kalau perempuan masuk di sektor publik, kemudian menyumbangkan ekonomi untuk keluarganya—sama dengan laki-laki.

Jika melihat perkembangan International human development index tahun 2012, Indonesia termasuk dalam tren yang menanjak. Namun hanya dilihat dari aspek sumbangan ekonomi, tanpa meninjau aspek lainnya. “Indikator-indikator terkait persoalan gender itu hanya mengarah pada persoalan ekonomi, peran di ruang publik, dan politik, namun tidak menyentuh produktivitas di sektor domestik,” katanya.

Yang menjadi masalah kalau sampai ada konsekuensi bahwa perempuan harus mengejar kesetaraan dengan ukuran-ukuran tertentu, yang kemudian dijadikan pedoman peranan perempuan di semua sektor. Itu sama saja memaksakan perempuan untuk berperan di ranah publik, yang menghilangkan hak perempuan berkiprah sesuai dengan keinginannya.

Padahal, peran perempuan saat ini tidak perlu diatur undang-undang, seperti RUU KKG. Secara alamiah, perempuan mengerti akan kebutuhannya, “Tanpa RUU KKG, perempuan secara alamiah memiliki pilihan hidup—baik itu di wilayah domestik maupun di ruang publik, politik maupun ekonomi,” tutur pakar gender MIUMI ini.

Di awal-awal gerakan gender masuk ke Indonesia sekitar tahun 1995-an, profesor Euis Sunarti pernah berdebat tentang dengan pendekatan-pendekatan teoritis, tetapi tidak banyak manfaatnya. Untuk itu, beliau mencoba dengan pendekatan yang berbeda. Misalnya, menjelaskan dengan menunjukkan fungsi-fungsi lain atas perempuan yang selama ini terabaikan.

Seperti bagaimana dampaknya kalau tidak ada peran dari bapak atau ibu dalam keluarga. Bagaimana kedua orangtua atau salah satunya selalu mendukung perkembangan anak dalam pendidikan, karakter, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana nasib generasi kita di masa mendatang?

Setelah mendapatkan informasi itu, mereka menyadari bahwa selama ini mereka salah, bahkan menyesal telah ikut mendukung RUU KKG ini. “Isu diskriminasi terhadap perempuan dalam penyusunan RUU KKG secara faktual memang benar, tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan untuk mengesahkan RUU ini,” ujarnya.

Artinya, selama ini ada informasi yang tidak tersampaikan secara utuh kepada mereka yang mendukung RUU KKG ini. Jadi, caranya adalah memberikan pemahaman agar mereka memahami pentingnya peran orangtua dalam keluarga, dan ketahanan keluarga dalam membangun generasi bangsa.(edit/deni/MG)

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k