Tuesday Sep 02

Puasa Sebagai Perisai Diri

Bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat banyak. Suatu bulan yang Allah muliakan dengan berbagai amalan yang pahalanya dilipatgandakan, di antaranya puasa, shalat tarawih, sahur, i’tikaf, membaca al-Qur’an, shadaqah dan sebagainya. Bulan Ramadhan diliputi dengan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. 

Bagi orang-orang beriman, bulan Ramadhan menjadi anugrah yang sangat besar untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki tingkat keimanan, dan memohon ampun atas kesalahan sebelumnya. Ibadah Puasa dapat membentuk kepribadian, dan puncak pembentukan kepribadian adalah insan takwa. Inti takwa adalah menjaga diri agar tetap berada pada rambu-rambu ajaran agama dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Dalam puasa orang dididik bahwa keridaan Allah itu lebih besar dari pada dunia dan seisinya.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya, Ihya ‘Ulum ad-Din, membagi puasa ke dalam tiga tingkatan yaitu puasanya orang awam (shaum al-’umum), adalah menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan dan minum. Kedua, puasanya orang khusus (shaum al-khusus) yaitu selain menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa juga turut berpuasanya panca indera dan seluruh badan dari segala bentuk dosa.

Ketiga adalah puasanya orang yang sangat istimewa (shaum khusus al-khusus) dimana selain menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa dan juga berpuasanya panca indera dan seluruh badan dari segala bentuk dosa, ia juga turut berpuasa ‘hati nurani’, yaitu tidak memikirkan soal keduniaan. Pembagian di atas memberikan umat Islam ruang untuk berpikir dan menelaah di tingkat manakah mereka berada.

Substansi puasa yang dimaksud bukan sekedar menahan dan mengendalikan hawa nafsu dari makan dan minum. Hakekat puasa adalah pengendalian diri secara total dengan kendali iman. Selain mengandalikan mulut dari makan dan minum, puasa juga mengendalikan lidah dari perkataan yang tidak terpuji, seperti bohong, gunjing, caci maki, dan lain lainnya.

Puasa juga pengendalian mata (ghadhul bashar) dari memandang hal yang diharamkan Allah seperti melihat tontonan aurat, tontonan maksiat, dan lain sebagainya. Puasa juga mengendalikan telinga dari mendengarkan hal- hal yang tidak diridhai Allah seperti mendegar musik hura-hura, mendengar gosip, dan lain-lain. Puasa juga mengendalikan kaki dan tangan dari tingkah laku yang tidak diridhai Allah.

Orang yang berpuasa akan merasakan kesusahan fakir miskin yang banyak menderita kelaparan dan kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasa suka menolong kepada orang-orang yang menderita. Selain itu puasa Ramadhan juga membawa faedah bagi kesehatan rohani dan jasmani jika pelaksanaannya sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah seberapa, atau mungkin sia-sia.

Puasa selain menjadikan orang bertakwa juga sebagai bentuk latihan rohani, mendidik jiwa agar dapat menguasai diri, mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti, mendidik jiwa untuk dapat memegang amanat dengan sebaik-baiknya, mendidik kesabaran dan ketabahan serta untuk perbaikan pergaulan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menerangkan, jika seseorang berpuasa dengan keimanan kepada Allah dan ridha dengan kewajiban puasa, mengharap pahala dan ganjarannya, tidak membenci kewajiban puasa, dan tidak ragu dengan pahalannya, maka Allah benar-benar akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Jika seorang hamba melakukan ibadah secara ikhlas baik dalam perkataan, perbuatan, tidak mengharapkan kedudukan, pujian, harta dan sesuatu apapun dari dunia, Allah pasti akan meneguhkan kedudukannya di bumi. Pertolongan Allah selalu datang pada kaum Muslimin dalam berbagai peperangan seperti perang Badar yang dilakukan pada bulan Puasa, perang Ahzab, perang Hunain, penaklukan kota Mekkah dan sebagainya. Bahkan bangsa Indonesia sendiri berhasil merebut kemerdekaan pada bulan Ramadhan.

 

Puasa menjadi sumber kekuatan 

Menurut KH A Hasyim Muzadi, puasa Ramadhan adalah arena pematangan emosi, intelektual, dan spiritual. Efek puasa mendorong kita matang berkomunikasi secara sosial. Maka, puasa memotivasi kita untuk melakukan kesalehan sosial, berperilaku produktif, berlatih sabar, dan memberi maaf. Ramadhan juga menjadi gelanggang berlatih sabar sebulan penuh. Energi ini nanti menjadi modal setahun ke depan guna menghadapi cobaan dan tantangan hidup. Prinsip masyarakat modern biasanya hidup dalam ketergesa-gesaan. Waktu menjadi ukuran dominan masyarakat modern, bagaimana mencapai produksi dengan tepat dan cepat sehingga pertumbuhan kemakmuran mencapai taraf tinggi.

Sabar mendorong orang fokus melakukan pekerjaan, sesuai nilai kerja universal, yaitu fokus atau bersungguh-sungguh dalam pekerjaan hingga mencapai hasil maksimal. Implikasi sabar dalam kehidupan, misalnya sabar dalam menerima cobaan, mengendalikan hawa nafsu, sabar dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, sabar dalam tugas kerja, sabar dalam menegakkan perjuangan di jalan Allah, dan sabar dalam hubungan antarsesama umat manusia.

Maulana Muhammad Zakariya al-Kandhalawi, dalam Kitabnya, Fadhail A’mal, menegaskan, selama Ramadhan jangan menyia-nyiakan waktu, bahkan harus lebih produktif dalam ibadah. Guru jangan tidak mengajar dan karyawan jangan tidak masuk kantor karena alasan sedang berpuasa. Ibadah wajib dan sunnah jangan sampai terganggu karena Ramadhan.

Islam menganggap perilaku produktif sebagai amal saleh manusia, sebagai khalifah di muka bumi. Kesalehan bukan fungsi positif dari ketidakproduktifan ekonomi. Semakin saleh, seseorang seharusnya semakin produktif. Mantan Ketua Umum PBNU ini menilai dalam menjalankan ibadah puasa, umat Muslim tidak hanya mengutamakan ritual ibadah tetapi juga harus dapat menginternalisasi makna ibadah puasa. Dalam arti luas, bulan Ramadan akan membentuk perubahan pribadi menjadi lebih baik.

Makna yang lebih penting dalam menjalankan puasa adalah dengan menginternalisasikan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan. Tentu, akan ada perubahan karakter pribadi yang lebih baik. “Nilai berpuasa memberikan pengaruh lebih baik kepada pribadi yang menjalankannya. Secara pribadi saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Agar mewujudkan puasa dan memberikan pengaruh pada karakter,” paparnya.

Di tengah masyarakat yang semakin individualistis-hedonis, puasa Ramadhan dapat menghadirkan ukhuwah yang diwujudkan dalam rasa kasih dan sayang, empati, kebersamaan, dan solidaritas bersama. Dari ukhuwah itu akan mengikat hati, mempererat komitmen sosial individual di tengah masyarakat.

Tali ukhuwah ini juga bisa mengikat hubungan antar kelompok dalam wadah masyarakat berbangsa dan bernegara yang menumbuhkan kesadaran tidak melanggar hukum, melakukan dosa dan berbagai pelanggaran moral seperti menjauhkan diri dari perbuatan korupsi. Sehingga akan tercipta masyarakat madani yang adil dan sejahtera. “Ibadah puasa adalah momentum perubahan dan perbaikan diri, baik secara moral maupun sosial, sebagai individu ataupun umat,” terangnya.

Dalam sebuah tulisannya, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan, puasa Ramadhan dapat dikatakan sebagai madrasah mutamayyizah (sekolah khusus) yang dibuka oleh Islam setiap tahun untuk proses pendidikan praktis menanamkan nilai-nilai yang agung dan hakikat yang tinggi. Siapa menjalin hubungan baik dengan Tuhannya, mengerjakan puasa, mengerjakan qiyamullail sesuai syariat, maka ia akan berhasil menempuh masa-masa ujian ini dan mendapatkan keuntungan yang besar dan penuh berkah.

Hendaknya umat Islam mencontoh kebiasaan Rasulullah SAW dalam bulan ramadhan yaitu meningatkan amalan-amalan di bulan puasa seperti shalat malam, tilawah al-Qur’an, memperbanyak zikir dan istighfar, i’tikaf, bersedekah kepada fakir miskin dan memberi makanan berbuka puasa, menghidupkan malam lailatul qadar dan melaksanakan ibadah umrah. Tidak diragukan lagi, pahala yang besar ini tidak sekedar diberikan kepada orang yang sebatas meninggalkan makan dan minum semata tapi yang meningkatkan amal ibadahnya. (Muhajir/MG)

 

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k