Friday Jul 25

Mahfudzat

Pentingnya Sebuah Kebaikan

Oleh Andi Triyawan MA

Guru KMI Gontor I

 

KH. Syukri Zarkasyi selalu menasihati santri-santrinya untuk tidak bosan-bosan menjadi orang baik. Karena seseorang yang menghiasi pribadinya dengan kebaikan-kebaikan, akan selalu mendapatkan kehormatan sebagai imbalan atas perbuatannya. Kebaikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah sedekah yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri.

Tidak hanya itu, kita juga diperintahkan untuk me­nyampaikan kebaikan dan menjauhkan keburukan dalam setiap aspek kehidupanbaik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Tindakan ini merupakan upaya untuk menjauhkan manusia dari penderitaan yang pasti akan mereka temui apabila mendekati keburukan.

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, Setiap tulang manusia harus disedekahi setiap hari selagi matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, menolong orang hingga ia dapat naik kendaraan atau mengangkatkan barang bawaannya ke atasnya merupakan sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kaki yang kau ayunkan ke masjid adalah sedekah, dan menyingkirkan aral di jalan juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Read more: Pentingnya Sebuah Kebaikan

 

Istiqamah

Oleh Ustad Agus Yasin

Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) ISID-Gontor

 

Syahdan, ada seorang ayah dan anak yang sedang bepergian dengan membawa keledai. Awalnya, sang ayah yang menaiki keledai, sementara anaknya berjalan di belakangnya. Dalam perja­lanan, ada seseorang yang men­cemooh si ayah karena membiarkan si anak berjalan sementara ia enak-enakan menaiki keledai.

Mendengar hal itu, sang ayah pun turun dan menyuruh sang anak untuk naik. Dalam perjalanan selanjutnya, ada seseorang yang mengatakan bahwa dengan membiarkan anaknya menaiki keledai, sementara sang ayah berjalan, berarti dia tidak mengajarkan sopan santun kepada anaknya.

Akhirnya, mereka berdua menaiki keledainya. Dalam perjalanan, seorang pecinta binatang mengatakan bahwa mereka telah melakukan penyiksaan terhadap keledai peliharaannya. Karena itu, mereka berdua kemudian ber­inisiatif menggendong keledai itu. Sontak, orang-orang tertawa. Mereka pun ditangkap lalu dibawa ke rumah sakit jiwa karena dianggap tidak waras.

Kisah di atas menunjukkan bahwa ayah maupun anaknya tidak tahu mana yang baik untuk dikerjakan, di antara empat cara bepergian bersama keledainya itu. Di sinilah pentingnya ilmu bagi seseorang. Itu pun belum cukup karena masih dibutuhkan konsistensi dan pendirian yang kuat. Seandainya mereka bergantian naiknya, dan tidak memedulikan komentar orang, pasti tidak mengalami kejadian seperti itu.

Read more: Istiqamah

Menjaga Lisan

Oleh Taufiq Iqbal
Guru KMI Gontor Ponorogo

 

Dalam ilmu mantiq di­sebutkan, manusia adalah hewan yang berbicara (hayawan natiq). Tentu, bukan berarti bahwa manusia itu seperti binatang atau membenarkan teori evolusi Darwin yang mengatakan manusia berasal dari kera. Ungkap­an ini menegaskan, yang membedakan derajat manusia dengan makhluk lain adalah kemampuannya dalam berpikir, berkesadaran, dan berkata-kata.

Emha Ainun Nadjib pernah menulis sebuah esai bertajuk Peradaban Mulut. Bisa jadi se­buah peradaban memang dimulai dari mulut atau tutur kata. Misalnya, kenapa padi itu disebut padi sebagaimana yang kita kenal sekarang, tentu butuh sekian abad hingga tercipta konsensus tentang padi.

Syahdan, setelah menciptakan Adam as., sebagaimana disebutkan dalam surah al-Baqarah, hal pertama yang diajarkan Tuhan adalah nama-nama tentang benda. Dari situ, lahirlah ilmu pengetahuan dan peradaban. Inilah yang menentukan kemuliaan bani Adam dibandingkan para malaikat dan Iblis.

Read more: Menjaga Lisan

Pentingnya Belajar Bahasa

Oleh Muttaqin, S.H.I

Guru Pondok Modern Darussalam Gontor

 

من عرف لغة قوم سلم من مكرمهم

Barang siapa menguasai bahasa suatu kaum, maka ia akan selamat dari tipu daya mereka.”

Ada sebuah kisah menarik yang dinukilkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi. Syahdan, ada tiga orang miskin yang berasal dari daerah yang berbeda—Romawi, Arab, dan Turki—sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Kemudian, lewatlah seorang saudagar dan memberi mereka sekeping uang.

Read more: Pentingnya Belajar Bahasa

Budaya Malu

Oleh Wiyanto Suud
Alumni KMI Gontor 2000

Memiliki rasa malu. Dan batang pohon akan tetap segar, selama ada kulitnya. Demi Allah, tiada kebaikan dalam hidup. Dan tiada arti dunia, bila malu telah sirna. Jika kau tidak takut dengan siksa akhirat. Dan tidak malu, maka perbuatlah sesukamu. Abu Tamam (w 231 H)

Selama ini, mungkin kita sering mendengar atau mengelu-elukan kalau Indonesia ini negeri yang sangat subur, negeri yang sangat kaya akan SDA, bahkan tongkat ditancapkan saja tumbuh menjadi tanaman. Cak Nun sering mengatakan bahwa seolah-olah surga itu bocor dan turun ke dunia menjadi sepenggal tanah bernama Indonesia.

Read more: Budaya Malu

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Language

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English French German Italian Japanese Korean Russian Spanish Thai

LOGO







k